performative activism
(W). Izin merespons dari sisi penulis, ya, sender.
Kalau apa yang saya tulis melalui Rambang terasa performative bagi kamu, tidak apa-apa. Saya tidak merasa perlu meyakinkan kamu mengenai niat di baliknya, karena pada akhirnya hanya saya yang benar-benar mengetahui niat dan alasan saya menulisnya.
Yang bisa saya pastikan, saya akan tetap menjalankan karakter ini sebaik yang saya mampu dan terus menulis secara IC termasuk berita-berita kritis mengenai pemerintahan, persoalan lingkungan hidup, serta plot Rambang yang sedang berjalan.
Kalau bagi kamu semua itu tetap terlihat “performative”, saya juga menerima kemungkinan tersebut. Sebab, ini memang jalan yang saya pilih untuk menyumbangkan kepedulian pada hal yang masih mampu saya lakukan: menulis.
Mungkin kontribusi ini kecil. Mungkin bahkan sangat kecil jika dibandingkan dengan persoalan yang sedang dikritik serta banyak orang lebih hebat dan berpengalaman lainnya yang benar-benar punya profesi sebagai wartawan, pembuat film dokumenter, pengamat politik yang betul-betul berjibaku dengan semua isu ini.
Namun sebagai rakyat biasa dan lulusan Sosiologi yang belum memperoleh kesempatan untuk bekerja di bidang keilmuan yang saya pelajari, dan justru bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan jurusan saya, saya menyadari bahwa saya tidak memiliki banyak kuasa untuk mengubah keadaan secara langsung.
Yang saya punya adalah kemampuan untuk menulis. Maka itulah yang saya gunakan melalui platform roleplay ini.
Bagi saya, inilah bentuk kewarasan sekaligus keberpihakan pada sejarah yang masih dapat saya kendalikan: memilih apa yang saya tulis, persoalan apa yang saya angkat, dan suara siapa yang ingin saya hadirkan melalui sebuah karakter. Lebih jelasnya: kepada siapa saya berpihak.
Kalau kritik-kritik yang disampaikan Rambang mengenai pemerintahan atau perusakan lingkungan hidup terasa mengganggu buatmu, silakan mute akun ini. Tidak apa-apa. Kamu tidak berkewajiban membaca sesuatu yang tidak ingin kamu baca.
Namun, saya titip satu pertanyaan untuk direnungkan sendiri: Apa sebenarnya yang membuat kritik tersebut terasa perlu disebut “performative”?
Karena kalau persoalannya memang terletak pada cara saya menyampaikannya, itu adalah kritik yang bisa saya pertimbangkan. Tetapi kalau yang mengganggu justru isi kritiknya, mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukan apakah saya sedang performative, melainkan mengapa kritik tersebut terasa mengganggu kamu sejak awal?
Jika sendernya berkenan menjelaskan, DM saya selalu terbuka. Terima kasih. ^^
Alterspring uses Markdown for formatting
*italic text* for italic text
**bold text** for bold text
[link](https://example.com) for link