Part time nature enjoyer, full time corporate headache
512
Inti yang saya tekankan tidak berfokus pada topik atau konten kritik yang dibawa oleh Rambang, saya setuju bahwa isu lingkungan dan kritik pemerintah memang penting untuk terus diangkat. Masalah utama terletak pada cara penyampaiannya. Ketika masalah sosial politik dunia nyata yang dampaknya nyata bagi masyarakat diubah menjadi alur cerita atau komoditas naratif dalam roleplay, garis pemisah antara kepedulian tulus dan ‘menggunakan/mengeksploitasi isu demi kebutuhan karakter’ menjadi sangat kabur. Sensitivitas terhadap masalah nyata berpotensi terdistorsi ketika dijadikan estetika atau alat pengembangan karakter.
Jika menurutmu ini merupakan bentuk kontribusi terbaikmu, silakan jalankan. Namun, menanyakan apakah bentuk ekspresi fiksi/roleplay itu etis dalam menyampaikan krisis dunia nyata merupakan kritik yang sah dan layak, tanpa mengasumsikan bahwa audiens ‘terganggu’ oleh isi dari kritik tersebut.
(W). Saya justru jadi ingin memahami lebih spesifik sebenarnya bagian mana dari Rambang yang sedang dipersoalkan, karena setelah membaca penjelasanmu, saya masih belum menemukan letak pengaburan atau eksploitasi yang kamu maksud.
Pertama, soal kenapa Rambang secara spesifik dipertanyakan etikanya.
Ada cukup banyak penulis RP yang membuat tulisan IC mengenai karhutla, konservasi, perlindungan lingkungan hidup, konflik agraria, maupun kritik terhadap kebijakan pemerintah. Materinya sama-sama berangkat dari persoalan yang benar-benar terjadi di dunia nyata. Karena itu, kalau persoalannya adalah penggunaan isu sosial-politik nyata sebagai bagian dari roleplay, saya masih belum memahami apa yang secara khusus membedakan Rambang dari praktik tersebut.
Kalau kritiknya memang ditujukan pada praktik roleplay secara umum, tentu saya bisa memahami pertanyaan etiknya sebagai sebuah diskusi yang lebih luas. Tetapi kalau Rambang secara spesifik dianggap bermasalah, menurut saya perlu ditunjukkan bagian spesifik dari praktik atau narasi Rambang yang membuatnya berbeda secara etis dari contoh-contoh tersebut.
Kedua, soal istilah “eksploitasi” dan “garis pemisah yang kabur”.
Saya setuju bahwa fiksi bisa saja mengeksploitasi persoalan nyata. Tetapi menurut saya, fakta bahwa sesuatu berangkat dari persoalan nyata belum dengan sendirinya membuatnya menjadi eksploitasi. Di sini saya justru ingin tahu kriterianya: pada titik mana menurutmu Rambang melewati batas tersebut?
Karena sejauh yang saya pahami dari tulisan Rambang, tidak ada nama korban nyata yang dipakai sebagai properti karakter, tidak ada perusahaan nyata yang dijadikan tokoh antagonis secara langsung, tidak ada klaim bahwa karakter fiksi ini merupakan representasi dari individu tertentu, dan tidak ada peristiwa nyata yang sekadar ditempelkan ke karakter untuk membangun citra personal penulis.
Memang Meru Betiri nyata. Pemerintah Indonesia nyata. Persoalan lingkungan yang dibicarakan juga nyata. Tetapi apakah penggunaan tempat, institusi, persoalan, atau konteks sosial yang nyata otomatis membuat sebuah karya menjadi eksploitasi?
Kalau begitu, batasnya menurut saya menjadi terlalu luas.
Sastra memang sejak awal tidak selalu bekerja dengan dunia yang sepenuhnya fiktif. Karya sastra bisa mengambil tempat nyata, peristiwa sejarah, konflik sosial, perubahan ekologis, atau pengalaman masyarakat sebagai bahan penciptaan, lalu mengolahnya kembali menjadi dunia naratif. Yang kemudian penting adalah bagaimana realitas tersebut direpresentasikan dan untuk kepentingan naratif seperti apa realitas ini digunakan.
Misalnya Saman menggunakan persoalan perubahan ekologis dan perkebunan di Sumatera Selatan sebagai bagian dari dunia ceritanya. Novel sejarah juga dapat berangkat dari peristiwa kolonial yang benar-benar terjadi, kemudian membangun tokoh dan konflik fiktif di dalam konteks sejarah tersebut. Contoh lain yang bisa dilihat adalah Kereta Semar Lembu, yang menggunakan sejarah pembangunan jalur kereta api pertama di Jawa beserta konteks kerja paksa dan kekerasan kolonial sebagai bagian dari konstruksi fiksinya.
Tentu saya tidak mengatakan bahwa karena karya-karya tersebut fiksi, maka seluruh bentuk penggunaan realitas otomatis etis. Eksploitasi dalam karya sastra tetap mungkin terjadi. Tetapi yang perlu dibedakan adalah “menggunakan realitas sebagai bahan representasi” dengan “mengeksploitasi realitas”. Keduanya bukan hal yang sama.
Kalau kriterianya hanya “masalah nyata dijadikan bagian dari cerita fiksi”, menurut saya kriterianya terlalu luas. Dengan kriteria tersebut, sastra realis, historical fiction, political fiction, environmental fiction, dan berbagai bentuk karya sastra yang memang berangkat dari realitas sosial akan berpotensi masuk ke dalam kategori yang sama.
Karena itu, menurut saya pertanyaan yang lebih tepat bukan sekadar “apakah isu nyata boleh masuk ke dalam roleplay?”, melainkan apa yang membuat penggunaan isu nyata dalam satu karya menjadi representasi yang sah dan pada titik apa ia berubah menjadi eksploitasi?
Dan kalau memang menurutmu Rambang sudah melewati batas itu, saya terbuka untuk mendengar bagian konkretnya: adegan, cara representasi, penggunaan fakta, atau mekanisme naratif apa yang menurutmu melakukan eksploitasi tersebut.
Karena kalau yang dipersoalkan hanya fakta bahwa Rambang adalah karakter fiksi yang membicarakan persoalan nyata, saya belum melihat perbedaan prinsipil antara praktik tersebut dengan banyak bentuk karya sastra maupun tulisan kreatif lain yang juga menjadikan realitas sebagai bahan narasinya.
performative activism
(W). Izin merespons dari sisi penulis, ya, sender.
Kalau apa yang saya tulis melalui Rambang terasa performative bagi kamu, tidak apa-apa. Saya tidak merasa perlu meyakinkan kamu mengenai niat di baliknya, karena pada akhirnya hanya saya yang benar-benar mengetahui niat dan alasan saya menulisnya.
Yang bisa saya pastikan, saya akan tetap menjalankan karakter ini sebaik yang saya mampu dan terus menulis secara IC termasuk berita-berita kritis mengenai pemerintahan, persoalan lingkungan hidup, serta plot Rambang yang sedang berjalan.
Kalau bagi kamu semua itu tetap terlihat “performative”, saya juga menerima kemungkinan tersebut. Sebab, ini memang jalan yang saya pilih untuk menyumbangkan kepedulian pada hal yang masih mampu saya lakukan: menulis.
Mungkin kontribusi ini kecil. Mungkin bahkan sangat kecil jika dibandingkan dengan persoalan yang sedang dikritik serta banyak orang lebih hebat dan berpengalaman lainnya yang benar-benar punya profesi sebagai wartawan, pembuat film dokumenter, pengamat politik yang betul-betul berjibaku dengan semua isu ini.
Namun sebagai rakyat biasa dan lulusan Sosiologi yang belum memperoleh kesempatan untuk bekerja di bidang keilmuan yang saya pelajari, dan justru bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan jurusan saya, saya menyadari bahwa saya tidak memiliki banyak kuasa untuk mengubah keadaan secara langsung.
Yang saya punya adalah kemampuan untuk menulis. Maka itulah yang saya gunakan melalui platform roleplay ini.
Bagi saya, inilah bentuk kewarasan sekaligus keberpihakan pada sejarah yang masih dapat saya kendalikan: memilih apa yang saya tulis, persoalan apa yang saya angkat, dan suara siapa yang ingin saya hadirkan melalui sebuah karakter. Lebih jelasnya: kepada siapa saya berpihak.
Kalau kritik-kritik yang disampaikan Rambang mengenai pemerintahan atau perusakan lingkungan hidup terasa mengganggu buatmu, silakan mute akun ini. Tidak apa-apa. Kamu tidak berkewajiban membaca sesuatu yang tidak ingin kamu baca.
Namun, saya titip satu pertanyaan untuk direnungkan sendiri: Apa sebenarnya yang membuat kritik tersebut terasa perlu disebut “performative”?
Karena kalau persoalannya memang terletak pada cara saya menyampaikannya, itu adalah kritik yang bisa saya pertimbangkan. Tetapi kalau yang mengganggu justru isi kritiknya, mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukan apakah saya sedang performative, melainkan mengapa kritik tersebut terasa mengganggu kamu sejak awal?
Jika sendernya berkenan menjelaskan, DM saya selalu terbuka. Terima kasih. ^^
Hi, Welirang. Ada buku atau film yang menginspirasi penulis bikin kisah/karakter Rambang?
(W). Hi, sender. Sebetulnya kalau inspirasi awalnya nggak muluk-muluk. Cuma dari cerita rakyat lokal di SumSel sama serat wayang Purwacarita soal Batara Ismaya. Cuma dalam proses, akhirnya saya tambah beberapa hal, kayak soal kosmik gunung-gunung di Jawa karena kelak berhubungan sama cerita. Nah, kalau buku soal itu sendiri sekarang saya lagi baca "Denyut Nadi Bumi" karya Adam Bobbette.
Alterspring uses Markdown for formatting
*italic text* for italic text
**bold text** for bold text
[link](https://example.com) for link