Teruntuk Cakrawala,
Pernahkah sekalinya dirimu memandang langit—mendapati rona kejora di antara temaramnya lazuardi? Mereka bilang, kataklismisitas sebuah bintang terukur dari redupnya sebelum meledak; kala kartika tak lagi mampu mempertahankan inti gravitasinya sendiri melalui fusi nuklir. Namun, untuk apa aku bicara soal bintang, bila cerahnya simpulmu lebih sanggup menoreh namamu di serat-serat yang membangun otot jantungku?
Satu, satu, dan satu. Seberapa familiarnya kaupikir degup jantung yang acap mengecewakan katupnya sendiri ini terhadap manisnya rindumu? Biarlah kemudian rinduku menghadap pada sang Chandra, mengalungi tiap-tiap kawahnya dengan lantunan sutra atas namamu. Apabila kemudian kamu tertarik melihatnya juga, ingat selalu pertanyaanku: malam ini, bulannya cantik, ya?
Selayaknya dirimu. Selalu; kini maupun nanti.
Ini yang kirim sudah boleh dicium?
Alterspring uses Markdown for formatting
*italic text* for italic text
**bold text** for bold text
[link](https://example.com) for link